Hukum Bertakbir Menggunakan Pengeras Suara
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ / ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻌﺜﻴﻤﻴﻦ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻓﻴﻪ
Yang mulia As Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, semoga Allah menjaga dan memberkahi beliau.
ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ : ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ : ﻓﺄﻧﺎ ﺃﺣﺪ ﻣﺤﺒﻴﻜﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻣﺎﻡ ﻭﺧﻄﻴﺐ ﺃﺣﺪ ﻣﺼﻠﻴﺎﺕ ﺍﻟﻌﻴﺪ ، ﺃﻟﺘﻤﺲ ﻓﺘﻮﻯ ﺧﻄﻴﺔ ﻣﻦ ﻓﻀﻴﻠﺘﻜﻢ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻮﻉ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻋﺒﺮ ﻣﻜﺒﺮﺍﺕ ﺍﻟﺼﻮﺕ ، ﻭﻭﺍﻗﻊ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺼﻠﻰ ﻳﺠﺘﻤﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﻟﻮﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ، ﻭﻟﻜﻨﻬﻢ ﻻ ﻳﻘﻴﻤﻮﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ، ﻓﺘﺠﺪﻫﻢ ﺻﺎﻣﺘﻴﻦ ﻻ ﻳﻜﺒﺮﻭﻥ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻧﺪﺭ ﺟﻬﻼً ، ﺃﻭ ﻏﻔﻠﺔ ﻣﻨﻬﻢ ، ﻣﻊ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﺍﻟﻨﺎﺻﺤﻴﻦ ﻓﻲ ﺣﺜﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ، ﻭﺗﺬﻛﻴﺮﻫﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ، ﻭﻳﻮﻡ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﻠﻰ ، ﻓﻬﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻨﺎ ﺇﺣﻴﺎﺀً ﻟﻠﺴﻨﺔ ﻭﺗﻌﻠﻴﻤﺎً ﻟﻠﺠﺎﻫﻞ ﻭﺗﺬﻛﻴﺮﺍً ﻟﻠﻐﺎﻓﻞ ، ﺃﻥ ﻧﻜﻠﻒ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﻭﺣﺪﻩ ﻓﻲ ﻣﻜﺒﺮ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ، ﻣﻊ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻧﻪ ﻗﺪ ﺛﺒﺖ ﺑﺎﻟﺘﺠﺮﺑﺔ ﻓﻲ ﻣﺼﻠﻴﺎﺕ ﻭﻣﺴﺎﺟﺪ ﻋﺪﺓ ﺃﻧﻪ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﻳﻜﺒﺮ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﻋﺒﺮ ﻣﻜﺒﺮ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﻓﺈﻥ ﻛﺜﻴﺮﺍً ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﻳﻜﺒﺮﻭﻥ ، ﺃﻡ ﺗﺄﻣﺮﻭﻧﻨﺎ ﺑﺄﻥ ﻧﺘﺮﻙ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻭﻟﻮ ﺃﺩﻯ ﺫﻟﻚ ﺇﻟﻰ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ، ﻭﺟﺰﺍﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍً . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺤﻔﻈﻜﻢ ﻭﻳﺮﻋﺎﻛﻢ ﻭﻳﻤﺪﻛﻢ ﺑﻌﻮﻧﻪ ﻭﺗﻮﻓﻴﻘﻪ . ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ .
Pertanyaan:
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, amma ba'du:
Saya adalah termasuk orang yang mencintai Anda karena Allah, saya ini salah seorang imam dan khatib sholat ied.
Saya memohon kepada anda untuk memberikan fatwa tertulis dalam masalah takbir hari Ied dengan menggunakan alat pengeras suara. Keadaan yang terjadi adalah bahwasanya ribuan orang sedang berkumpul di tempat sholat Ied, akan tetapi mereka tidak mengerjakan Sunnah untuk bertakbir, maka akan anda dapati bahwa mereka semua hanya diam saja tidak bertakbir kecuali sedikit saja disebabkan karena ketidaktahuan, atau kelalaian sebagian mereka, bersamaan dengan sudah adanya usaha orang-orang yang menasehati mereka dan menyemangati mereka untuk bertakbir, serta mengingatkan mereka akan hal tersebut pada malam hari raya di masjid-masjid, dan juga pada hari raya di tempat sholat Ied.
Maka apakah boleh bagi kami dalam rangka untuk menghidupkan Sunnah takbir, serta dalam rangka mengajari orang-orang yang belum tahu, dan juga untuk mengingatkan orang-orang yang lalai, yaitu dengan cara memberikan tugas kepada salah seorang yang hadir dalam sholat Ied untuk bertakbir sendirian menggunakan pengeras suara dengan takbir yang disyariatkan, dengan pertimbangan bahwa telah terbukti dengan percobaan berkali-kali di musholla-musholla serta masjid-masjid ketika ada seorang yang bertakbir menggunakan pengeras suara maka orang-orang pun ikut bertakbir.
Atau anda memerintahkan kami untuk meninggalkan hal yang demikian itu, sehingga hal tersebut akan mengakibatkan orang-orang yang sholat ied meninggalkan takbir.
Jazakumullahu khairan, semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi anda, serta meluaskan untuk anda pertolongan dan taufiq-Nya. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
ﻓﺄﺟﺎﺏ ﻓﻀﻴﻠﺘﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ : ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ .
ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ . ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻌﻴﺪﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻟﻠﺼﻼﺓ ﺳﻨﺔ ، ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ ، ﻭﺍﻟﺠﻬﺮ ﺑﻪ ﺳﻨﺔ ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ ، ﻓﻠﻮ ﺗﺮﻛﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﻟﻢ ﻳﺄﺛﻤﻮﺍ ، ﻭﻟﻮ ﻛﺒﺮﻭﺍ ﺳﺮًّﺍ ﻟﻢ ﻳﺄﺛﻤﻮﺍ ، ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻊ ﺍﻟﻨﺰﺍﻉ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﻣﺜﻞ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﺎ ﻳﻘﺎﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﺇﻧﻬﺎ ﺳﻨﺔ ، ﺛﻢ ﺗﺤﺪﺙ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﺰﺍﻉ ﻋﺪﺍﻭﺍﺕ ﻭﺑﻐﻀﺎﺀ ، ﻭﺗﻀﻠﻴﻞ ﻭﺗﻔﺴﻴﻖ ﻭﺗﺒﺪﻳﻊ ﻭﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ ، ﻓﻠﻮ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﻢ ﻳﻜﺒﺮﻭﺍ ، ﺃﻭ ﻟﻢ ﻳﺮﻓﻌﻮﺍ ﺃﺻﻮﺍﺗﻬﻢ ﺑﺎﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻻ ﻳﻌﺪﻭﻥ ﺁﺛﻤﻴﻦ ، ﻭﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺍﻹﺻﺮﺍﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻋﺒﺮ ﻣﻜﺒﺮ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﺘﺬﻛﻴﺮ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻫﺬﺍ ﻳﺤﺪﺙ ﻋﺪﺍﻭﺓ ﻭﺑﻐﻀﺎﺀ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﺧﻼﻑ ﻣﺎ ﺗﻬﺪﻑ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ، ﻓﺎﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﺮﻙ ﺑﻨﺎﺀ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ـ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ـ ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﻏﺐ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻌﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ : « ﻟﻮﻻ ﺃﻥ ﻗﻮﻣﻚ ﺣﺪﻳﺜﻮﺍ ﻋﻬﺪ ﺑﻜﻔﺮ ﻟﺒﻨﻴﺖ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻋﻠﻰ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ » ﻓﺘﺮﻙ ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺤﺪﺙ ﻓﺘﻨﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻫﻨﺎﻙ ﻓﺘﻨﺔ ـ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ـ ﻭﻗﻴﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺇﻧﻨﺎ ﻧﻜﻞ ﺇﻟﻰ ﺷﺨﺺ ﻣﻌﻴﻦ ـ ﺍﻟﻤﺆﺫﻥ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ـ ﺃﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﺍﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ﻋﺒﺮ ﻣﻜﺒﺮ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﺑﺪﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﺘﺎﺑﻌﻪ ﺃﺣﺪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺟﻤﺎﻋﻲ ﻓﻼ ﺃﺭﻯ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺑﺄﺳﺎً؛ ﻷﻧﻪ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﺑﺎﻟﺘﻜﺒﻴﺮ ﻭﺍﻟﺠﻬﺮ ﺑﻪ ﻭﻓﻴﻪ ﺗﺬﻛﻴﺮ ﻟﻠﻐﺎﻓﻠﻴﻦ ﺃﻭ ﺍﻟﻨﺎﺳﻴﻦ ، ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺒﺮ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﺎﺿﺮﻳﻦ ﺭﺍﻓﻌﺎً ﺻﻮﺗﻪ ﺑﺪﻭﻥ ﻣﻜﺒﺮ ﺍﻟﺼﻮﺕ ﻟﻢ ﻳﺘﻮﺟﻪ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ، ﻓﻜﺬﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻛﺒﺮ ﻋﺒﺮ ﻣﻜﺒﺮ ﺍﻟﺼﻮﺕ ، ﻟﻜﻦ ﺑﺪﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﺘﺎﺑﻌﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺟﻤﺎﻋﻲ ﻛﺄﻧﻤﺎ ﻳﻠﻘﻨﻬﻢ ﺫﻟﻚ ، ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩ ﺣﺘﻰ ﻳﻜﺒﺮﻭﺍ ﺑﻌﺪﻩ ﺑﺼﻮﺕ ﻭﺍﺣﺪ ، ﻓﺈﻥ ﻫﺬﺍ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ .
ﻭﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ، ﻓﺄﻫﻢ ﺷﻲﺀ ﻋﻨﺪﻱ ﺃﻥ ﻳﺘﻔﻖ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻠﻒ ، ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻘﻊ ﺑﻴﻨﻬﻢ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺪﺍﻭﺓ ﻭﺍﻟﺒﻐﻀﺎﺀ ، ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
ﻓﻲ 1 /11 / 3141 ﻫـ .
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﻭﺭﺳﺎﺋﻞ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ - ( 16 / 157 )
ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ
Beliau yang mulia menjawab dengan perkataannya:
"Bismillahirrahmanirrahim, wa'alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh."
"Takbir pada malam dua hari raya sampai datangnya imam sholat Ied hukumnya adalah sunnah, bukan wajib. Kemudian juga menjahr-kan (mengeraskan) takbir hari raya hukumnya adalah Sunnah, tidak sampai wajib. Andaipun semua orang meninggalkannya maka mereka tidaklah berdosa. Kalaupun juga mereka itu bertakbirnya dilakukan secara sirr (lirih/tidak dikeraskan) mereka juga tidaklah berdosa. Maka tidaklah sepantasnya hal seperti ini menyebabkan terjadinya perselisihan diantara manusia yang mana kebanyakan dikatakan bahwa hukum dalam perkara ini adalah Sunnah. Apalagi gara-gara perselisihan masalah ini kemudian terjadi permusuhan dan pertengkaran, saling menyesatkan dan saling membid'ahkan dan yang semisalnya."
"Kalaupun orang-orang tidak bertakbir, atau mereka tidak mengeraskan takbir hari raya maka mereka tidaklah berdosa. Maka tidaklah sepantasnya memaksa untuk mengeraskan takbir hari raya dengan pengeras suara dengan alasan untuk mengingatkan orang-orang akan Sunnah takbir jika ini mengakibatkan adanya perselisihan dan permusuhan, maka sungguh hal tersebut malah menyelisihi apa yang menjadi tujuan syari'at."
"Maka nabi shalallahu 'alaihi wasallam pernah meninggalkan/tidak jadi membangun ulang Ka'bah sebagaimana Ka'bah pada masa nabi Ibrahim alaihis Salaam, Padahal beliau sangat menginginkan hal tersebut. Dan beliau pun berkata kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, "kalau saja bukan karena kaummu yang baru saja meninggalkan masa jahiliah dengan kekafiran maka sungguh akan aku bangun lagi Ka'bah itu sebagaimana pada masa Ibrahim", dan beliaupun meninggalkannya dengan tujuan supaya tidak terjadi fitnah."
"Akan tetapi jika disana tidak terjadi fitnah -dalam masalah takbir- dan diumumkan kepada orang-orang bahwasanya *"kami akan menugaskan seseorang -mungkin muadzin atau selainnya- untuk bertakbir melalui pengeras suara"* tanpa ada seorangpun yang menirukannya secara bersamaan (takbir berjamaah) maka aku melihat hal seperti ini tidaklah mengapa. Karena ia masuk dalam bab sekedar mengeraskan bacaan takbir dan menjahrkannya dan padanya terdapat peringatan untuk orang-orang yang lalai (dalam bertakbir pent.). Dan merupakan sesuatu yang lumrah ketika ada salah seorang hadirin yang bertakbir dengan mengeraskan takbirnya tanpa menggunakan pengeras suara tak akan ada seorangpun yang mengingkarinya. Maka demikian pula ketika ia bertakbir dengan menggunakan pengeras suara."
"Akan tetapi hendaknya takbir ini tanpa diikuti oleh orang-orang secara berjamaah sehingga seperti orang yang bertakbir mentalqin bacaan takbir kepada para jama'ah, yaitu para jama'ah menunggu si orang yang bertakbir selesai kemudian mereka mengikuti takbirnya dengan satu suara secara bersamaan, maka sungguh yang seperti ini tidaklah ada asalnya di dalam Sunnah."
"Dan bagaimanapun juga, hal yang terpenting menurutku adalah hendaknya manusia bersepakat dalam hal yang para ulama salaf berada padanya. Dan jangan pula terjadi diantara manusia permusuhan dan pertengkaran, dan semoga shalawat senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya."
1 Dzulqa'dah 1413 H
Majmu' Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin (16/157)
Dari Maktabah Syamilah
Terjemah bebas akhukum Ilham CK
Muroja'ah: Ustadz Abu Idris Enggar






0 komentar:
Posting Komentar